Selasa, 04 Mei 2010

KOMPAS JABAR 30 MARET

Sistem 3R untuk Kota Cirebon
Oleh: Lutfiyah Handayani

Musim penghujan kini, tidak lagi menggambarkan kehidupan. Hijau, sejuk, tentram kesan tersebut telah berganti dengan ketakutan, emosi, air bah dan gulungan arus yang dipadati oleh sampah yang melumpuhkan kehidupan manusia. Dengan kata lain, musim penghujan menjadi musim mencekam, tidak hanya di Kota besar saja. Cirebon juga menjadi salah satu kota mendebarkan memasuki musim penghujan. Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah, galib menjadi persoalan penting bagi kota Cirebon, mengingat Volume TPA yang hampir penuh, juga bencana banjir dan rob yang siap menyerang warga kota Cirebon, akibat sampah yang memadati sungai, pantai.
Dari lima kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 300.000 jiwa, warga kota menghasilkan sampah kurang lebih 720 m2 per hari, sampah dan limbah domestik dari pemukiman, industri, pasar dll menjadi sumber pencemaran terbesar ( Kompas, 19 Juni 2009). Dengan mengandalkan lahan seluas 9,6 hektar sebagai tempat pembuangan akhir sampah TPA Kopiluhur, sampah ditimbun setiap hari dengan volume melampaui kapasitas. Kini penggunaannya telah mencapai 80%, sekitar tiga tahun lagi pemerintah Kota harus segera mencari TPA baru.
Meski daya angkut sampah kota Cirebon tidak buruk, namun sampai hari ini kita masih bisa menyaksikan gundukan sampah tersebar di beberapa sudut kota. Belum lagi sampah yang tak terangkut karena masih ada sebagian masyarakat membuang sampah di sungai. Masalah lingkungan yang akan ditimbulkan oleh sampah cukup mengerikan, bukan hanya faktor kesehatan, bahkan bencana.


Kampanye sistem 3R tak terlihat
Kalo kita mengenal K3 dengan baik melalui gerakan yang digalakan bahkan dari tingkat RT, Gerakan spesifik mengenai sampah yang dikenal dengan sistem 3R (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang) hampir tidak pernah digalakkan secara serius oleh pemerintah. Usaha penanganan sampah pun masih sebatas perdebatan di meja para anggota dewan. Sementara, setiap hari kita tidak bisa menghindari produktivitas sampah, baik yang dihasilkan dari rumah tangga maupun industri.
Meskipun teknologi lingkungan telah bisa menjawab persoalan sampah, melalui proses daur ulang untuk dijadikan kompos dan mol. Namun pemanfaatannya belum begitu memasyarakat. Dibutuhkan kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah untuk bisa mensosialisasikan sistem 3R, sehingga sampah bukan hanya menjadi masalah warga kota yang bermukim di sekitar wilayah TPA atau bantaran sungai.
Pemerintah sebagai penanggung jawab langsung Program pembangunan kesejahteraan sosial masyarakat Kota cirebon, hendaknya segera menyelasaikan persoalan sampah, jangan menunggu bencana. Tindakan preventif yang bisa dilakukan melalui sistem birokrasi pemerintahan yaitu dengan menginstruksikan gerakan 3R secara serentak pada hari jadi Kota Cirebon misalnya, sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam menangani masalah sampah. Meski peyalanan sosial sebagai bagian dari pembangunan sosial tidak bisa dilakukan sebatas gerakan monumental. Dibutuhkan usaha yang terencana dan terarah meliputi perlindungan dan pelayanan sosial.
Kreativitas masyarakat dalam sistem 3R dibutuhkan secara aktif karena hampir setiap penduduk kota Cirebon berpotensi menghasilkan 2,4 liter sampah perhari. Kesadaran yang ditimbulkan oleh pengetahuan perlu ditingkatkan. Sosialisasi sistem 3R menjadi penting dilakukan, mengingat karakteristik masyarakat yang cenderung acuh terhadap lingkungan.
Blungbang TPA pribadi
Kebiasaan yang diterapkan orang zaman dulu di Cirebon, dalam menyikapi sampah rumah tangga melalui penggalian lubang dipekarangan rumah, oarng Cirebon menyebutnya blungbang merupakan salah satu teknologi lingkungan yang dilakukan secara sederhana., telah mengajarkan kita memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan, atas sampah yang kita hasilkan. Lubang yang sengaja dibuat biasanya berbentuk persegi dengan ukuran yang menyesuaikan luas halaman yang dimiliki. Lubang tersebut dipersiapkan untuk tempat membuang sampah domestik mereka, serupa tempat pembuangan akhir sampah pribadi.
Masing-masing rumah memiliki blungbang sebagai kelengakapan kebutuhan keluarga, serupa dengan kebutuhan, garasai atau ruang dapur laiknya. Sistem penguraian alamiah digunakan dalam pengguanaan blungbang. Blungbang kembali ditutup (diurug) jika sudah penuh, dibiarkan menjadi kandungan daman tanah yang sebelumnya dibakar terlebih dahulu, dengan maksud memudahkan terurainya sampah non-organik. Namun sepertinya konsep blungbang tidak memungkinkan lagi untuk dipraktekan mengingat lahan yang semakin sempit di wilayah perkotaan, pemukiman menjadi padat dan pekarangan tak dibiarkan menjadi taman semata. Oleh karena itu perlu adanya alternatif sebagai media pengganti blungbang.
Bak sampah permanen dengan ukuran sedang yang biasa kita lihat di ujung komplek perumahan merupakan satu bentuk alternatif, atau drum bekas yang dijadikan sebagai bak sampah. Baik bak sampah permanen maupun drum tersebut dijadikan tempat sampah dengan tahapan seperti pada sistem blungbang, untuk sampah domestik sepertinya model tersebut cukup membantu untuk mengatasi masalah sampah domestik. Sistem 3R menjadi motor terhadap aktivitas penangan sampah, baik melalui penggunaan blungbang ataupun drum.
Diperlukan ketegasan pemerintah kota untuk mensukseskan program daur ulang sampah kepada masyarakat. Menggalakkan sistem 3R melalui program pemerintah bukan sekedar slogan atau tugas birokratis yang parsial dan ala kadarnya. Namun penanganan yang serius dan berkesinambungan. Sehingga pendangkalan sungai, pantai juga penumpukan sampah bisa segera diatasi, dan masyarakat terhindar dari bahaya banjir dan rob pada musim penghujan. Pun penegasan yang dinyatakan walikota Cirebon, Subardi pada sidang paripurna hari jadi kota Cirebon ke-640,bukan sekedar retorika.
Penulis, pegiat Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon

Kamis, 05 November 2009

esei

Memayu, Potensi Wisata 6 KM
Oleh; Lutfiyah Handayani
Datangnya musim hujan disambut suka cita di Cirebon. Masyarakat menyambutnya dengan tradisi memayu Ki Buyut Trusmi. Perayaan ini diyakini sebagai upacara ”mapag udan” dalam bahasa Cirebon. Kegiatan lain yang biasa digelar pada perayaan memayu, diantaranya, pertunjukan wayang, pengajian akbar, tahlilan, kenduri dengan memotong kerbau, juga yang menjadi daya tarik lain dari kegiatan memayu adalah kirab budaya atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan “ider-ider-an”.
Istilah Memayu merupakan bahasa Cirebon asli yang artinya memperbaiki, mbagusi, (membuat bagus) yang mengandung dua pengertian. Pertama, mbagusi atap-atap yang sudah lama dan menggantikannya dengan yang baru, kedua mbagusi diri manusia dari sifat-sifat lama yang jelek dengan sifat-sifat yang bagus.
Upacara memayu dilakukan untuk mengganti atap masjid yang terbuat dari alang-alang, sebagai genting, dan kayu sebagai kusennya. Penggantian alang-alang dilakukan sebagai persiapan pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan. Satu tahun sebagai angka periodik penggantian alang-alang. Juga memayu dijadikan sebagai sarana sedekah bumi bagi masyarakat wilayah tiga untuk memulai musim tanam, dengan keyakinan berkah yang di dapat, musim panen mereka akan sukses. Terlepas dari keyakinan masyarakat tentang memayu, ritus ini merupakan bentuk kesadaran mensyukuri nikmat.
Tujuan utama dari upacara ini pada awalnya sebagai penyebaran Agama Islam, rangkaian kegiatannya antara lain, buka sirap, mengganti atap mesjid, sehari setelah acara kirab budaya, dan tahlil pada malamnya. Buka sirap harus dilakukan pada hari senin, berkaitan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Awalnya memayu dilakukan sewindu sekali (8 tahun sekali) namun lambat laun menjadi 4 tahun sekali dan itupun penggantian dengan kayu jati pada mesjid, sedangkan atap alang-alang diganti dalam setahun sekali.
Ider-ideran pada memayu menampilkan beberapa kesenian tradisi, diantaranya, tari baksa, tari perlawanan masyarakat Trusmi. Tarian tersebut hanya ada pada saat memayu Trusmi. Masyarakat perserta ider-ideran meyakini keikutsertaan mereka pada acara tersebut dapat membawa berkah bagi mereka.
Spiritualitas Memayu dan Potensi Wisata
Ribuan warga bersiap menonton acara kirab budaya memayu, mereka datang dari Wilayah Tiga Cirebon, sepanjang enam kilometer ruas jalan Pantura-Plered menjadi lintasan kirab, prosesi berlangsung sekitar tiga jam.
Pada barisan terdepan, 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi dibawa para kemit, petugas jaga makam keramat. Lalu rombongan kemit-pembawa tombak pusaka, barisan berikutnya adalah para sesepuh Trusmi, kemudian disusul para pejabat tingkat kecamatan Plered dan Weru, Cirebon, rombongan pembawa ranting bambu, kulit atau atap rumbia di paling belakang, rombongan tersebut merupakan pembawa peralatan yang akan dipasang di masjid.
Selain itu, parade kebudayaan yang menampilkan kreativitas masyarakat dan kesenian tradisional lain seperti, burok, juga atraksi kuda. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bahwa keikutsertaan mereka pada kirab akan membawa rezeki bagi usaha mereka, bahkan sebagian masyarakat mendatangkan kuda tunggang untuk ikut serta pada acara kirab, sebagai gengsi. Prosesi kirab di mulai dan berakhir dari komplek makam Ki Buyut Trusmi.
Dalam prosesi ini, tumpeng raksasa, padi, sayur, mayur dan hasil bumi juga ikut dikirab. Bagi warga, tradisi memayu ini menjadi ajang untuk mengalah barokah atau mendapat berkah. Di tengah perjalanan, warga berebut mengambil nasi tumpeng dan hasil bumi.
Kreativitas dibutuhkan pada perayaan memayu Buyut Trusmi sehingga terdapat kebaruan yang merupakan upaya menghidupkan tradisi lokal. Sehingga memayu menjadi salah satu potensi wisata seni yang unik.
Sementara, Spiritualitas yang diajarkan oleh Ki Buyut Trusmi sebagai ulama yang memimpin kerajaan Trusmi. Terkandung dalam setiap pertunjukan yang digelar saat memayu, di antaranya pentas brai, merupakan seni tradisi yang memiliki nilai religiusitas yang tinggi. Brai berasal dari kata birahi yang artinya menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kebudayaan yang terus berlangsung pada kehidupan kita sebenarnya mengalami kompetisi yang tinggi dengan perubahan zaman.
Secara umum memayu merupakan pilar dalam membangun “identitas” dengan latar “lokalitas” dalam sebuah kehidupan masyarakat. Dimana manusia dihadapkan pada pola dan kebudayaan asing yang membabi buta melalui produk instant yang menggiurkan.
Memayu, jika kita tempatkan sebagai fenomena tradisi sakral yang saklek. Atau dengan kata lain, kita tidak melalukan inovasi terhadap perayaan tersebut, perayaan ini akan ditinggalkan masyarakat secara perlahan. Pun ternyata memayu hanya sebagai ritus bagian dari kehidupan mitos masyarakat yang digelar dengan sedikit hikmat dan penuh dengan segala yang berbau hura-hura.
Gagasan yang terkandung dalam perayaan memayu, tidak akan luntur. Namun jika kemasan perayaan tradisi ini diurus dengan baik, mungkin akan menjadi moment tersendiri bagi kegiatan wisata di Cirebon. Dengan mengatur kostum perserta kirab, misalnya agar lebih artistik. Atau Seperti yang terjadi di Yogyakarta, kirab budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat Sleman misalnya, saat menyambut Ramadhan, dengan menghias andong peserta kirab hasil kreativitas masyarakatnya.
Upacara itu menjadi satu fokus kegiatan budaya tersendiri yang memikat banyak wisatawan lokal maupun asing untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kemasan pertunjukan seni tradisi, maupun perserta kirab budaya diatur dalam sebuah kepanitiaan yang detail dengan tema tertentu, misalnya. Sehingga memayu memaksa banyak kreativitas yang terjadi. Kirab budaya kolosal enam kilometer di sekitar kecamatan Plered, akan menjadi moment tujuan wisatawan lokal dan asing.
Pemerintah sebagai penentu kebijakan hendaknya tanggap dengan fenomona kebudayaan yang terjadi sehingga, pemberdayaan kultur lokal bukan sekedar utopia, tetapi merupakan usaha keras yang terus-menerus untuk melawan arus global.

Minggu, 30 Agustus 2009

Cerpen Lutfiyah Handayani

Pak Dirjo
Oleh Lutfiyah Handayani

Angin musim kemarau menyapu bersih dedaun yang berserak di jalan dusun Durenan Tejo, sesekali tertiup dengan tertib bak tentara latihan baris berbaris, memenuhi sisi jalanan. Keinginan untuk merantau, pindah ke daerah lain rupanya terus menggelitik pikiran pak Dirjo, seiring dengan beban keluarga yang terus meningkat menyusul dengan kelahiran anak keempatnya. Pak Dirjo kian mematangkan niat untuk hijrah dan mencari harapan baru di sebuah kota.
Tempat kelahirannya dusun Durenan Tejo, dimana ia sedari remaja menyandarkan hidup dengan menjadi buruh pabrik tekstil dirasa tidak begitu menjanjikan untuk perkembangan anak-anaknya kelak. Kehidupan desa yang serba terbatas, dan penghasilan yang biasa saja. Akhirnya, dengan berbekal tekad dan iman yang coba ia yakinkan terus menerus, akhirnya pak Dirjo pada senja yang tangguh, saat bu Dirjo tengah menyelesaikan tugas sucinya, memasak untuk makan malam, pak Dirjo menyampaikan niatnya untuk mengajak keluarga merantau, “bu, ngerti saiki zaman wis berubah”, Tanya pak Dirjo memancing, “iya, iyo pae iki piye si, wit mbien po iyo podo” sahut bu Dirjo, nampaknya bu Dirjo masih belum ngeh yang dimaksud suaminya. Kemudian pak Dirjo meneruskannya dengan bercerita tentang kesuksesan orang perantauan, hikayat pedagang sate Madura, balada pedagang pecel Madiun, roman pedagang nasi Padang. Hingga, menjelang senja tenggelam dan keinginan pak Dirjo semakin menggigil setelah ia ceritakan kesuksesan orang-orang perantau tadi, padahal maksudnya tadi sebagai pengantar keinginannya untuk pindah kepada bu Dirjo.
“Wis, maghrib si’ pa, la wong aku ini pecinta sastra klasik kok diceritain begituan, yo mesti hafal aku toh? Sampe ni pak, bu e iki tahu penulise sopo sing ngarang cerita ngono iku…” bu Dirjo menjawab sambil terkekeh. Pak Dirjo membalas dengan wajah mengkirut sambil menggaruk kepala, ia sebenarnya tidak tega harus meninggalkan Jogjakarta, dimana ia dilahirkan, ia menghabiskan masa remaja hingga bertemu dengan pujaan hatinya, di lapangan Murangan setelah turnamen bola voli Agustus-an dua puluh tahun silam. Ia jadi terkenang, bayangan masa lalu itu menggenang di mangkuk sup sisa makannya di meja.
“hush” suara itu menghentak lamunan pak Dirjo, menggeleparkan keinginan jadi tekad, “bu, seisuk tak pindah yu” pak Dirjo akhirnya menembakkan pertanyaan yang seminggu ini ia siapkan pada bu Dirjo, “Pindah kemana pak?pentung..opo ngendi..?” “Cirebon..” suara pak Dirjo mewarnai lanskap langit maghrib saat semua hening..bu Dirjo terhenyak..”Cirebon..” entah apa yang ada dalam kepala perempuan tengah baya ini, sambil merapal nama Cirebon ia terus melakukan aktivitasnya.
Kemudian ia menghampiri suaminya, “Ne’ pae wis siap, bue iki siap, mendi wae pa” seraya memeluk suaminya bu Dirjo meninggalkan suaminya yang masih termangu di kursi. Sebagai pegawai berprestasi pak Dirjo merasa memiliki potensi untuk mengembangkan kreativitasnya ditempat lain, yang lebih menjanjikan tentunya,semua itu demi masa depan keluarga. Seperti biasa pukul enam pagi pak Dirjo bersiap menuju pabrik yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Warga desa Durenan Tejo sebagian besar jadi pegawai di pabrik tekstil tersebut, yang terletak di ujung desa. Daerah kami termasuk kawasan daratan tinggi, kabupaten Sleman sebagai kabupaten terkaya di Jogja memang luas dan memiliki banyak asset selain pertanian. Tanah kami subur, di ladang, pekarangan rumah kami bisa menanam tembakau, dan jenis sayuran.
Pukul setengah dua belas, bel dari ruang bagian personalia dibunyikan, “pak Dirjo, bulan depan mancing yu pak” seru pak Kus dari jauh, “hey, pak Kus” pak Dirjo membalas, “ngene lo pak , apurane sak derange nggih nek sasi ngarep niku mungkin aku wis pindah..” jelas pak Dirjo. “pindah?” pak Kus terperanjat, “la kok iso?” .”Iki lagi rencana, tapi aku sak’ keluarga uwis madep mantep arep pindah Cirebon, menurutmu piye? Jelas pak Dirjo. Dengan terus melahap ramsum makan siang pecel dari istrinya.
Matahari semakin tegas melemparkan sinarnya, menghasilkan ratusan butiran peluh dari punggung buruh, yang memintal di pabrik ini. Bayangan ketiga anak-anak ku tertanggal pada mesin pabrik, bagaimana bisa aku akan tetap bertahan dengan segala keterbatasan ini. Jaminan pendidikan, kesehatan, dari pabrik kami hanya untuk dua anggota keluarga lainnya. Sementara jumlah keluargaku sudah ada lima orang termasuk aku dan isteriku. Saraf pak Dirjo menegang, darahnya bergejolak mendorong semua keinginan untuk pindah. Dipikirkannya lagi, dipertimbangkan segala kebaikan dan keburukan yang mungkin akan terjadi.
Senja menuruni desa Durenan Tejo dengan biru, pak Kus dan pak Dirjo menggayuh sepeda dengan percakapan tentang pertandingan gulat yang akan diadakan dibalai desa,. Nampaknya pak Dirjo masih berharap pandangan dari kawannya soal tekadnya untuk pindah ke Cirebon, “Piye pak, aku ki nganti saiki tetep mantep arep pindah..” sela pak Dirjo diantara obrolan gulatnya. Pak Kus menghentikan sepedanya, diikuti dengan pak Dirjo, mereka duduk di bawah pohon asem di simpang jalan Ngangkrik. “ Ngene, lo Jo, kowe wis mantep tenan po?nek wis mantep tenan kan kowe gari mikir piye carane metu seko pabrik, Berhubung masa kerjamu kan masih panjang, belum lagi tenaga mu ki isih dibutuhkan pabrik” papar pak Kus dengan runtut pada Pak Dirjo.
“Iku masalahe, aku ra yakin tenan entuk ijin, tapi iki hak ku kn, toh aku sing duwe pilihan” jawab pak Dirjo tegas. Memang sebagai pegawai pak Dirjo memiliki etos kerja yang tinggi dengan kualitas pegawai sebaik pak Dirjo, rasanya pabrik akan memikirkan ulang permintaan pensiun muda dari pak Dirjo. Memang untuk ukuran teman sejawatnya pak Dirjo dikenal cukup pendiam, cara kerjanya cepat, rapih dan tangkas, sekelasan pegawai biasa pak Dirjo dengan semangat kesejahteraan yang tinggi sampai berpikiran untuk merantau. Mengadu nasib ke daerah lain, yang entah di daerah tersebut apakah banyak yang akan bisa dia perbuat, tanpa sanak sodara dekat.
Tak terasa, adzan magrib berkumandang, kedua karib itu, segera beranjak dan bergegas pulang. Tentu saja dalam pikiran pak Dirjo sudah ada rencana apa yang akan dia lakukan di sana, Cirebon Kota tujuannya. Sayup-sayup pak Dirjo mendengar informasi tentang Kota pesisir pantai Utara Jawa tersebut. Dan memang Cirebon sebagai salah satu pusat peradaban di pulau Jawa juga cukup terkenal, keluhuran budaya serta bawanya religisitasnya tersohor. Pak Dirjo membayangkan rumahnya kelak di Cirebon ditanami pohon kelapa, kresem, dan beberapa tumbuhan pesisir lainnya dan ia akan membuang keinginannya untuk terus memelihara pohon Durian. Membayangkan itu pak Dirjo tertawa geli..seraya berdoa”Gusti, tulung paringi petunjuk yang terbaik.” . desir-desir mimpi pak Dirjo membawanya sampai ke halaman rumahnya, sesosok perempuan hamil melambaikan tangan penuh kasih pada lelaki paruh baya ini.
“Iki pun maghrib pak? Kemana dulu toh ? Tanya bu Dirjo seraya menyuguhkan teh hangat di joglo. “Ngobrol sama pak Kus, tuker pikiran soal niat kepindahan kita bu..” sahut pak Dirjo. Pak Kus memberi banyak masukan, pandangan bagaimana nanti seandainya kita jadi pindah. Dari mulai pabrik, anak-anak, keluargamu, keluargaku, Cirebon, juga rumah peninggalan Ibu..” pak Dirjo menghela napas. Matanya kembali menerawang persoalan yang akan dihadapi berkaitan dengan keputasannya itu. Buru-buru ia menyergap fikirannya, “Aku tak mandi si’ bu..”
Cahaya bulan menerobos pohon durian, pantulannya bergoyang diatas kolam samping rumah pak Dirjo. Ia pejamkan matanya menyerap semua energi yang ada dari kampung halamannya. Diserapnya kenangan, erangan, tangisan dan debu-debu daun yang berjatuhan dihalaman dalam-dalam, ada ngilu yang beradu di ingatannya. Gemuruh di dadanya ia biarkan sejenak, biarkan bergejolak hingga ia menghembuskan napas dengan perlahan dan membuka mata. Pak Dirjo sebagai penduduk asli Dusun Murangan merasa berat untuk meninggalkannya,
Catatan sejarah yang separuh telah meresap di tanah ini, dihamparan ladang dan rimbun pohon bambu, begitu juga cintanya, pertemuan dengan bu Dirjo di lapangan desa Murangan akan selalu menghidupkan keinginan untuk kembali dan membaui tanah kelahirannya. “ini pae..” seru bu Dirjo dengan menyodorkan sehelai kertas, pak Dirjo meminta bu Dirjo membuat surat pengunduran dirinya dari pabrik sebagai bukti keridhoan bu Dirjo untuk merantau.
Pak Dirjo memandangi surat itu dengan seksama, kemudian bertanya pada bu Dirjo seraya mengelus perut bu Dirjo yang tengah mengandung. “mungkin sing nomer papat lahiri ning Cirebon bu..” suara pak Dirjo lirih. “Kebaikan akan membawa kita pada kesejahteraan dunia akhirat pa..percayalah..” balas bu Dirjo. “Sesuk surat tak lebokke, ben cepet entuk jawaban..” “mapag si jabang, ben pas lahir awak dewe wis duwe omah ning cirebon..” memang bagi pak Dirjo kebahagiaan keluarga lebih dari segalanya. Ia teringat almarhum bapaknya yang berpesan “sing jenenge wong lanang, tiyang kakung iku, wong sing iso nganggep wong wedok tiyang estri iku dadi bagian uripe, wong lanang butuh wong wedok lan sebalike. ” karena memang pak Dirjo sangat pendiam, mungkin hanya dengan cinta bagaimana memahami perilakunya.

Setelah mendapat surat keputusan dari pabrik, pak Dirjo dan keluarga pindah ke Cirebon dengan penuh suka cita, ia menghamparkan mimpinya lagi merajut hari-hari membangun rumah, hingga datang waktu kelahiran anaknya yang ke-empat. Kini pak Dirjo menjadi bagian penting dari pabrik baru dimana tempat ia bekerja di Cirebon.
Empat tahun kemudian pak Dirjo dikarunia satu anak lagi, kini di usia senja pak Dirjo hendak melengkapkan kebahagiaan untuk menunaikan ibadah haji, sebagai bonus dari perusahaan tempat ia tinggal karena prestasi kerjanya yang bagus.

Jogja, 2009

Jumat, 28 Agustus 2009

Puisi Hidayat Mohamad arif

Hidayat Mohamad Arif

Kota Tua dan Ritus Dupa
1
Udara terapung di atas pohonan tanggung
rindang kamboja seperti tugu-tugu merah yang diam
dari gugus galaksi, bulan gerhana
terang diserap remang
ada deru ombak menyusun lirik lagu:
lekuk terumbu, tarian nyiur, tambak udang
tercatat dalam riuhnya pesisir.
2
Buritan kapal seperti pengasingan
ribuan mangrove tumbuh
di tepi pesisir, sayap camar jadi kenangan
dan pasir-pasir bertambah sekal
sementara ladang garam kehilangan asin
alam bersitegang
maka, ikan-ikan memilih jadi imigran.
3
Jangkar karam berkarat
bantar sungai pekat
kapal-kapal coret-moret
sementara gudang seperti gua
tangan pekerja membongkar tembok-temboknya
untuk kenangan atau batu nisan
batu-batu yang dilelangkan di pelabuhan.
4
Dan kini hujan di menara
komposisi jarum jam seperti memperhelatkan
buritan kapal, jangkar karam
juga yang tinggal sejumlah nelayan terus sibuk
menyusup di gemuruh pesisir
dibayang-bayangi udara yang mengapung
di baris-baris suluk aku canggung
kota tua dan ritus dupa satu berita
berisi cerita terkadang sengketa.

Cirebon, 2005.

Malam dengan Sayap-sayap Angin
Malam dengan sayap-sayap angin yang runcing
di tenggara, hujan bergetar dalam jiwa kembara
ada titik masa lalu berlepasan di rambutmu
yang helai-helainya bisu
dan angsana pun berguguran seperti riuh kabut
pada lengkung punggungmu, menyimpan resah puisi
aku bangkit menuliskan kata-kata yang berdarah itu.
Di lenganku, antara bayang purnama dan akasia
seperti muara yang menyusun separuh wajahmu
wajah yang dipantulkan guguran embun
memetik jiwaku di bawah gerak angin
pada lengkung punggungmu, tersimpan resah puisi.
dan dua tanganku mendekap dinginnya waktu.
Malam dengan sayap-sayap angin yang runcing,
di tenggara, lepas dari purnama
dalam sepi, pada lengkung punggungmu
menempuh rahasia
bersama puisimu yang paling sunyi.

Cirebon, 2005

Sebuah Catatan
Purnama September, di teras rumah
setelah rintik hujan itu
akasia kuyup
sekawanan rumput berdiam
ada genangan di halaman
malam bercahaya pualam
hanya batu-batu yang tetap menghitam.
Di kolam yang bentuknya tapal kuda
antara tembikar dan sisa air bekas jilatan anjing
menjadi bayang-bayang
Mengapa waktu begitu lemah
tak ada serangkai catatan
dari perjalanan?
Di kolam yang bentuknya tapal kuda
sekepal batu jadi jejak rintihan anjing
menjadi segala kenangan
Malam runtuh ke pagi
saatnya pergi, saatnya
tak ada catatan yang bisa jadi puisi.

Cirebon, 2005

Jumat, 24 Juli 2009

Lutfiyah handayani

Lutfiyah Handayani

Dikamarmu

Ada tembok yang basah hampir berlumut dan mengerak
Dibarisan buku terselip kenangan yang menyisakan ngungun wajahmu
Pintu, jendela, lantai usang penuh debu bertutur puisi
Rupanya matahari pun enggan menerobos langit-langit kamar itu
Diruangan ini kata-kata berbincang denganmu dulu, kini terasa sunyi
Angin membawa perahu yang kau tambatkan entah di negeri mana
Dengan gerbong ketabahan kau lempar keindahan ke danau sepi
Aku hanya bisa menjaga resah menunggu memelihara kenangan
Sebelum datang pagi yang menggulung semua mimpi


Jogja 2009

Selasa, 21 Juli 2009

Lutfiyah Handayani

Lutfiyah Handayani

Setelah Kemarau
(Untuk:B)

Rimbun ilalang dirambutmu semoga terbakar angin senja
Hingga resah meluruh dan angin kumbang membawanya jauh darimu
Saat berganti musim dingin membasuh debu di pelipismu
Kereta waktu menghijaukan benih keriangan diladangmu
Akan kutanam padi di dadamu dengan balur cinta matahari
Dengan ketabahan kemarau menyusun bebatuan sungai menunggu hujan
Dalam labirin hampa peluh mengkilap meranggas di matamu
Pandanganku terluka membaca rajah yang tercatat tentangmu
Namun ketabahan padamu menjulang segala ragu


Jogja, 2009

Senin, 20 Juli 2009

Lutfiyah handayani

Lutfiyah Handayani

Lantai Bawah Bring harjo
(Catatan Untuk;B)

Seratus enampuluh kali kau yakinkan namaku berjejal di etalase
Cinta yang diukir dengan tinta waktu yang membeku dari sudut hatimu
Angin mengibas debunya sesekali-membasuh peluh sepanjang jalan
Gayut kasihmu terlontar dari tabuhan rebana pengamen renta

Jangan pergi terlalu jauh dariku karena tak mampu kutegaskan sendiri
Matahari membakar jemari lembut para pedagang jajanan khas malioboro
Tanganmu seakan mendekapku dengan ilusi penuh keraguan
Angin kemarau kembali mendesir menyisakan panas yang merangsang

Kau berjanji akan kembali dengan ketabahan yang memanjang
Menjagaku dari kobaran kemarau yang membakar keriangan
Di Bring Harjo sejuta mimpi terlahir dengan airmata yang dimulai saat gulita
Kusimpan doa, cinta, dengan ringkih pada lembaran sejarah Kota tua

Jogja. 2009