Kamis, 05 November 2009

esei

Memayu, Potensi Wisata 6 KM
Oleh; Lutfiyah Handayani
Datangnya musim hujan disambut suka cita di Cirebon. Masyarakat menyambutnya dengan tradisi memayu Ki Buyut Trusmi. Perayaan ini diyakini sebagai upacara ”mapag udan” dalam bahasa Cirebon. Kegiatan lain yang biasa digelar pada perayaan memayu, diantaranya, pertunjukan wayang, pengajian akbar, tahlilan, kenduri dengan memotong kerbau, juga yang menjadi daya tarik lain dari kegiatan memayu adalah kirab budaya atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan “ider-ider-an”.
Istilah Memayu merupakan bahasa Cirebon asli yang artinya memperbaiki, mbagusi, (membuat bagus) yang mengandung dua pengertian. Pertama, mbagusi atap-atap yang sudah lama dan menggantikannya dengan yang baru, kedua mbagusi diri manusia dari sifat-sifat lama yang jelek dengan sifat-sifat yang bagus.
Upacara memayu dilakukan untuk mengganti atap masjid yang terbuat dari alang-alang, sebagai genting, dan kayu sebagai kusennya. Penggantian alang-alang dilakukan sebagai persiapan pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan. Satu tahun sebagai angka periodik penggantian alang-alang. Juga memayu dijadikan sebagai sarana sedekah bumi bagi masyarakat wilayah tiga untuk memulai musim tanam, dengan keyakinan berkah yang di dapat, musim panen mereka akan sukses. Terlepas dari keyakinan masyarakat tentang memayu, ritus ini merupakan bentuk kesadaran mensyukuri nikmat.
Tujuan utama dari upacara ini pada awalnya sebagai penyebaran Agama Islam, rangkaian kegiatannya antara lain, buka sirap, mengganti atap mesjid, sehari setelah acara kirab budaya, dan tahlil pada malamnya. Buka sirap harus dilakukan pada hari senin, berkaitan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Awalnya memayu dilakukan sewindu sekali (8 tahun sekali) namun lambat laun menjadi 4 tahun sekali dan itupun penggantian dengan kayu jati pada mesjid, sedangkan atap alang-alang diganti dalam setahun sekali.
Ider-ideran pada memayu menampilkan beberapa kesenian tradisi, diantaranya, tari baksa, tari perlawanan masyarakat Trusmi. Tarian tersebut hanya ada pada saat memayu Trusmi. Masyarakat perserta ider-ideran meyakini keikutsertaan mereka pada acara tersebut dapat membawa berkah bagi mereka.
Spiritualitas Memayu dan Potensi Wisata
Ribuan warga bersiap menonton acara kirab budaya memayu, mereka datang dari Wilayah Tiga Cirebon, sepanjang enam kilometer ruas jalan Pantura-Plered menjadi lintasan kirab, prosesi berlangsung sekitar tiga jam.
Pada barisan terdepan, 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi dibawa para kemit, petugas jaga makam keramat. Lalu rombongan kemit-pembawa tombak pusaka, barisan berikutnya adalah para sesepuh Trusmi, kemudian disusul para pejabat tingkat kecamatan Plered dan Weru, Cirebon, rombongan pembawa ranting bambu, kulit atau atap rumbia di paling belakang, rombongan tersebut merupakan pembawa peralatan yang akan dipasang di masjid.
Selain itu, parade kebudayaan yang menampilkan kreativitas masyarakat dan kesenian tradisional lain seperti, burok, juga atraksi kuda. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bahwa keikutsertaan mereka pada kirab akan membawa rezeki bagi usaha mereka, bahkan sebagian masyarakat mendatangkan kuda tunggang untuk ikut serta pada acara kirab, sebagai gengsi. Prosesi kirab di mulai dan berakhir dari komplek makam Ki Buyut Trusmi.
Dalam prosesi ini, tumpeng raksasa, padi, sayur, mayur dan hasil bumi juga ikut dikirab. Bagi warga, tradisi memayu ini menjadi ajang untuk mengalah barokah atau mendapat berkah. Di tengah perjalanan, warga berebut mengambil nasi tumpeng dan hasil bumi.
Kreativitas dibutuhkan pada perayaan memayu Buyut Trusmi sehingga terdapat kebaruan yang merupakan upaya menghidupkan tradisi lokal. Sehingga memayu menjadi salah satu potensi wisata seni yang unik.
Sementara, Spiritualitas yang diajarkan oleh Ki Buyut Trusmi sebagai ulama yang memimpin kerajaan Trusmi. Terkandung dalam setiap pertunjukan yang digelar saat memayu, di antaranya pentas brai, merupakan seni tradisi yang memiliki nilai religiusitas yang tinggi. Brai berasal dari kata birahi yang artinya menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kebudayaan yang terus berlangsung pada kehidupan kita sebenarnya mengalami kompetisi yang tinggi dengan perubahan zaman.
Secara umum memayu merupakan pilar dalam membangun “identitas” dengan latar “lokalitas” dalam sebuah kehidupan masyarakat. Dimana manusia dihadapkan pada pola dan kebudayaan asing yang membabi buta melalui produk instant yang menggiurkan.
Memayu, jika kita tempatkan sebagai fenomena tradisi sakral yang saklek. Atau dengan kata lain, kita tidak melalukan inovasi terhadap perayaan tersebut, perayaan ini akan ditinggalkan masyarakat secara perlahan. Pun ternyata memayu hanya sebagai ritus bagian dari kehidupan mitos masyarakat yang digelar dengan sedikit hikmat dan penuh dengan segala yang berbau hura-hura.
Gagasan yang terkandung dalam perayaan memayu, tidak akan luntur. Namun jika kemasan perayaan tradisi ini diurus dengan baik, mungkin akan menjadi moment tersendiri bagi kegiatan wisata di Cirebon. Dengan mengatur kostum perserta kirab, misalnya agar lebih artistik. Atau Seperti yang terjadi di Yogyakarta, kirab budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat Sleman misalnya, saat menyambut Ramadhan, dengan menghias andong peserta kirab hasil kreativitas masyarakatnya.
Upacara itu menjadi satu fokus kegiatan budaya tersendiri yang memikat banyak wisatawan lokal maupun asing untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kemasan pertunjukan seni tradisi, maupun perserta kirab budaya diatur dalam sebuah kepanitiaan yang detail dengan tema tertentu, misalnya. Sehingga memayu memaksa banyak kreativitas yang terjadi. Kirab budaya kolosal enam kilometer di sekitar kecamatan Plered, akan menjadi moment tujuan wisatawan lokal dan asing.
Pemerintah sebagai penentu kebijakan hendaknya tanggap dengan fenomona kebudayaan yang terjadi sehingga, pemberdayaan kultur lokal bukan sekedar utopia, tetapi merupakan usaha keras yang terus-menerus untuk melawan arus global.