Kamis, 05 November 2009

esei

Memayu, Potensi Wisata 6 KM
Oleh; Lutfiyah Handayani
Datangnya musim hujan disambut suka cita di Cirebon. Masyarakat menyambutnya dengan tradisi memayu Ki Buyut Trusmi. Perayaan ini diyakini sebagai upacara ”mapag udan” dalam bahasa Cirebon. Kegiatan lain yang biasa digelar pada perayaan memayu, diantaranya, pertunjukan wayang, pengajian akbar, tahlilan, kenduri dengan memotong kerbau, juga yang menjadi daya tarik lain dari kegiatan memayu adalah kirab budaya atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan “ider-ider-an”.
Istilah Memayu merupakan bahasa Cirebon asli yang artinya memperbaiki, mbagusi, (membuat bagus) yang mengandung dua pengertian. Pertama, mbagusi atap-atap yang sudah lama dan menggantikannya dengan yang baru, kedua mbagusi diri manusia dari sifat-sifat lama yang jelek dengan sifat-sifat yang bagus.
Upacara memayu dilakukan untuk mengganti atap masjid yang terbuat dari alang-alang, sebagai genting, dan kayu sebagai kusennya. Penggantian alang-alang dilakukan sebagai persiapan pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan. Satu tahun sebagai angka periodik penggantian alang-alang. Juga memayu dijadikan sebagai sarana sedekah bumi bagi masyarakat wilayah tiga untuk memulai musim tanam, dengan keyakinan berkah yang di dapat, musim panen mereka akan sukses. Terlepas dari keyakinan masyarakat tentang memayu, ritus ini merupakan bentuk kesadaran mensyukuri nikmat.
Tujuan utama dari upacara ini pada awalnya sebagai penyebaran Agama Islam, rangkaian kegiatannya antara lain, buka sirap, mengganti atap mesjid, sehari setelah acara kirab budaya, dan tahlil pada malamnya. Buka sirap harus dilakukan pada hari senin, berkaitan dengan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Awalnya memayu dilakukan sewindu sekali (8 tahun sekali) namun lambat laun menjadi 4 tahun sekali dan itupun penggantian dengan kayu jati pada mesjid, sedangkan atap alang-alang diganti dalam setahun sekali.
Ider-ideran pada memayu menampilkan beberapa kesenian tradisi, diantaranya, tari baksa, tari perlawanan masyarakat Trusmi. Tarian tersebut hanya ada pada saat memayu Trusmi. Masyarakat perserta ider-ideran meyakini keikutsertaan mereka pada acara tersebut dapat membawa berkah bagi mereka.
Spiritualitas Memayu dan Potensi Wisata
Ribuan warga bersiap menonton acara kirab budaya memayu, mereka datang dari Wilayah Tiga Cirebon, sepanjang enam kilometer ruas jalan Pantura-Plered menjadi lintasan kirab, prosesi berlangsung sekitar tiga jam.
Pada barisan terdepan, 14 tombak pusaka warisan Ki Buyut Trusmi dibawa para kemit, petugas jaga makam keramat. Lalu rombongan kemit-pembawa tombak pusaka, barisan berikutnya adalah para sesepuh Trusmi, kemudian disusul para pejabat tingkat kecamatan Plered dan Weru, Cirebon, rombongan pembawa ranting bambu, kulit atau atap rumbia di paling belakang, rombongan tersebut merupakan pembawa peralatan yang akan dipasang di masjid.
Selain itu, parade kebudayaan yang menampilkan kreativitas masyarakat dan kesenian tradisional lain seperti, burok, juga atraksi kuda. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bahwa keikutsertaan mereka pada kirab akan membawa rezeki bagi usaha mereka, bahkan sebagian masyarakat mendatangkan kuda tunggang untuk ikut serta pada acara kirab, sebagai gengsi. Prosesi kirab di mulai dan berakhir dari komplek makam Ki Buyut Trusmi.
Dalam prosesi ini, tumpeng raksasa, padi, sayur, mayur dan hasil bumi juga ikut dikirab. Bagi warga, tradisi memayu ini menjadi ajang untuk mengalah barokah atau mendapat berkah. Di tengah perjalanan, warga berebut mengambil nasi tumpeng dan hasil bumi.
Kreativitas dibutuhkan pada perayaan memayu Buyut Trusmi sehingga terdapat kebaruan yang merupakan upaya menghidupkan tradisi lokal. Sehingga memayu menjadi salah satu potensi wisata seni yang unik.
Sementara, Spiritualitas yang diajarkan oleh Ki Buyut Trusmi sebagai ulama yang memimpin kerajaan Trusmi. Terkandung dalam setiap pertunjukan yang digelar saat memayu, di antaranya pentas brai, merupakan seni tradisi yang memiliki nilai religiusitas yang tinggi. Brai berasal dari kata birahi yang artinya menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kebudayaan yang terus berlangsung pada kehidupan kita sebenarnya mengalami kompetisi yang tinggi dengan perubahan zaman.
Secara umum memayu merupakan pilar dalam membangun “identitas” dengan latar “lokalitas” dalam sebuah kehidupan masyarakat. Dimana manusia dihadapkan pada pola dan kebudayaan asing yang membabi buta melalui produk instant yang menggiurkan.
Memayu, jika kita tempatkan sebagai fenomena tradisi sakral yang saklek. Atau dengan kata lain, kita tidak melalukan inovasi terhadap perayaan tersebut, perayaan ini akan ditinggalkan masyarakat secara perlahan. Pun ternyata memayu hanya sebagai ritus bagian dari kehidupan mitos masyarakat yang digelar dengan sedikit hikmat dan penuh dengan segala yang berbau hura-hura.
Gagasan yang terkandung dalam perayaan memayu, tidak akan luntur. Namun jika kemasan perayaan tradisi ini diurus dengan baik, mungkin akan menjadi moment tersendiri bagi kegiatan wisata di Cirebon. Dengan mengatur kostum perserta kirab, misalnya agar lebih artistik. Atau Seperti yang terjadi di Yogyakarta, kirab budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat Sleman misalnya, saat menyambut Ramadhan, dengan menghias andong peserta kirab hasil kreativitas masyarakatnya.
Upacara itu menjadi satu fokus kegiatan budaya tersendiri yang memikat banyak wisatawan lokal maupun asing untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kemasan pertunjukan seni tradisi, maupun perserta kirab budaya diatur dalam sebuah kepanitiaan yang detail dengan tema tertentu, misalnya. Sehingga memayu memaksa banyak kreativitas yang terjadi. Kirab budaya kolosal enam kilometer di sekitar kecamatan Plered, akan menjadi moment tujuan wisatawan lokal dan asing.
Pemerintah sebagai penentu kebijakan hendaknya tanggap dengan fenomona kebudayaan yang terjadi sehingga, pemberdayaan kultur lokal bukan sekedar utopia, tetapi merupakan usaha keras yang terus-menerus untuk melawan arus global.

Minggu, 30 Agustus 2009

Cerpen Lutfiyah Handayani

Pak Dirjo
Oleh Lutfiyah Handayani

Angin musim kemarau menyapu bersih dedaun yang berserak di jalan dusun Durenan Tejo, sesekali tertiup dengan tertib bak tentara latihan baris berbaris, memenuhi sisi jalanan. Keinginan untuk merantau, pindah ke daerah lain rupanya terus menggelitik pikiran pak Dirjo, seiring dengan beban keluarga yang terus meningkat menyusul dengan kelahiran anak keempatnya. Pak Dirjo kian mematangkan niat untuk hijrah dan mencari harapan baru di sebuah kota.
Tempat kelahirannya dusun Durenan Tejo, dimana ia sedari remaja menyandarkan hidup dengan menjadi buruh pabrik tekstil dirasa tidak begitu menjanjikan untuk perkembangan anak-anaknya kelak. Kehidupan desa yang serba terbatas, dan penghasilan yang biasa saja. Akhirnya, dengan berbekal tekad dan iman yang coba ia yakinkan terus menerus, akhirnya pak Dirjo pada senja yang tangguh, saat bu Dirjo tengah menyelesaikan tugas sucinya, memasak untuk makan malam, pak Dirjo menyampaikan niatnya untuk mengajak keluarga merantau, “bu, ngerti saiki zaman wis berubah”, Tanya pak Dirjo memancing, “iya, iyo pae iki piye si, wit mbien po iyo podo” sahut bu Dirjo, nampaknya bu Dirjo masih belum ngeh yang dimaksud suaminya. Kemudian pak Dirjo meneruskannya dengan bercerita tentang kesuksesan orang perantauan, hikayat pedagang sate Madura, balada pedagang pecel Madiun, roman pedagang nasi Padang. Hingga, menjelang senja tenggelam dan keinginan pak Dirjo semakin menggigil setelah ia ceritakan kesuksesan orang-orang perantau tadi, padahal maksudnya tadi sebagai pengantar keinginannya untuk pindah kepada bu Dirjo.
“Wis, maghrib si’ pa, la wong aku ini pecinta sastra klasik kok diceritain begituan, yo mesti hafal aku toh? Sampe ni pak, bu e iki tahu penulise sopo sing ngarang cerita ngono iku…” bu Dirjo menjawab sambil terkekeh. Pak Dirjo membalas dengan wajah mengkirut sambil menggaruk kepala, ia sebenarnya tidak tega harus meninggalkan Jogjakarta, dimana ia dilahirkan, ia menghabiskan masa remaja hingga bertemu dengan pujaan hatinya, di lapangan Murangan setelah turnamen bola voli Agustus-an dua puluh tahun silam. Ia jadi terkenang, bayangan masa lalu itu menggenang di mangkuk sup sisa makannya di meja.
“hush” suara itu menghentak lamunan pak Dirjo, menggeleparkan keinginan jadi tekad, “bu, seisuk tak pindah yu” pak Dirjo akhirnya menembakkan pertanyaan yang seminggu ini ia siapkan pada bu Dirjo, “Pindah kemana pak?pentung..opo ngendi..?” “Cirebon..” suara pak Dirjo mewarnai lanskap langit maghrib saat semua hening..bu Dirjo terhenyak..”Cirebon..” entah apa yang ada dalam kepala perempuan tengah baya ini, sambil merapal nama Cirebon ia terus melakukan aktivitasnya.
Kemudian ia menghampiri suaminya, “Ne’ pae wis siap, bue iki siap, mendi wae pa” seraya memeluk suaminya bu Dirjo meninggalkan suaminya yang masih termangu di kursi. Sebagai pegawai berprestasi pak Dirjo merasa memiliki potensi untuk mengembangkan kreativitasnya ditempat lain, yang lebih menjanjikan tentunya,semua itu demi masa depan keluarga. Seperti biasa pukul enam pagi pak Dirjo bersiap menuju pabrik yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Warga desa Durenan Tejo sebagian besar jadi pegawai di pabrik tekstil tersebut, yang terletak di ujung desa. Daerah kami termasuk kawasan daratan tinggi, kabupaten Sleman sebagai kabupaten terkaya di Jogja memang luas dan memiliki banyak asset selain pertanian. Tanah kami subur, di ladang, pekarangan rumah kami bisa menanam tembakau, dan jenis sayuran.
Pukul setengah dua belas, bel dari ruang bagian personalia dibunyikan, “pak Dirjo, bulan depan mancing yu pak” seru pak Kus dari jauh, “hey, pak Kus” pak Dirjo membalas, “ngene lo pak , apurane sak derange nggih nek sasi ngarep niku mungkin aku wis pindah..” jelas pak Dirjo. “pindah?” pak Kus terperanjat, “la kok iso?” .”Iki lagi rencana, tapi aku sak’ keluarga uwis madep mantep arep pindah Cirebon, menurutmu piye? Jelas pak Dirjo. Dengan terus melahap ramsum makan siang pecel dari istrinya.
Matahari semakin tegas melemparkan sinarnya, menghasilkan ratusan butiran peluh dari punggung buruh, yang memintal di pabrik ini. Bayangan ketiga anak-anak ku tertanggal pada mesin pabrik, bagaimana bisa aku akan tetap bertahan dengan segala keterbatasan ini. Jaminan pendidikan, kesehatan, dari pabrik kami hanya untuk dua anggota keluarga lainnya. Sementara jumlah keluargaku sudah ada lima orang termasuk aku dan isteriku. Saraf pak Dirjo menegang, darahnya bergejolak mendorong semua keinginan untuk pindah. Dipikirkannya lagi, dipertimbangkan segala kebaikan dan keburukan yang mungkin akan terjadi.
Senja menuruni desa Durenan Tejo dengan biru, pak Kus dan pak Dirjo menggayuh sepeda dengan percakapan tentang pertandingan gulat yang akan diadakan dibalai desa,. Nampaknya pak Dirjo masih berharap pandangan dari kawannya soal tekadnya untuk pindah ke Cirebon, “Piye pak, aku ki nganti saiki tetep mantep arep pindah..” sela pak Dirjo diantara obrolan gulatnya. Pak Kus menghentikan sepedanya, diikuti dengan pak Dirjo, mereka duduk di bawah pohon asem di simpang jalan Ngangkrik. “ Ngene, lo Jo, kowe wis mantep tenan po?nek wis mantep tenan kan kowe gari mikir piye carane metu seko pabrik, Berhubung masa kerjamu kan masih panjang, belum lagi tenaga mu ki isih dibutuhkan pabrik” papar pak Kus dengan runtut pada Pak Dirjo.
“Iku masalahe, aku ra yakin tenan entuk ijin, tapi iki hak ku kn, toh aku sing duwe pilihan” jawab pak Dirjo tegas. Memang sebagai pegawai pak Dirjo memiliki etos kerja yang tinggi dengan kualitas pegawai sebaik pak Dirjo, rasanya pabrik akan memikirkan ulang permintaan pensiun muda dari pak Dirjo. Memang untuk ukuran teman sejawatnya pak Dirjo dikenal cukup pendiam, cara kerjanya cepat, rapih dan tangkas, sekelasan pegawai biasa pak Dirjo dengan semangat kesejahteraan yang tinggi sampai berpikiran untuk merantau. Mengadu nasib ke daerah lain, yang entah di daerah tersebut apakah banyak yang akan bisa dia perbuat, tanpa sanak sodara dekat.
Tak terasa, adzan magrib berkumandang, kedua karib itu, segera beranjak dan bergegas pulang. Tentu saja dalam pikiran pak Dirjo sudah ada rencana apa yang akan dia lakukan di sana, Cirebon Kota tujuannya. Sayup-sayup pak Dirjo mendengar informasi tentang Kota pesisir pantai Utara Jawa tersebut. Dan memang Cirebon sebagai salah satu pusat peradaban di pulau Jawa juga cukup terkenal, keluhuran budaya serta bawanya religisitasnya tersohor. Pak Dirjo membayangkan rumahnya kelak di Cirebon ditanami pohon kelapa, kresem, dan beberapa tumbuhan pesisir lainnya dan ia akan membuang keinginannya untuk terus memelihara pohon Durian. Membayangkan itu pak Dirjo tertawa geli..seraya berdoa”Gusti, tulung paringi petunjuk yang terbaik.” . desir-desir mimpi pak Dirjo membawanya sampai ke halaman rumahnya, sesosok perempuan hamil melambaikan tangan penuh kasih pada lelaki paruh baya ini.
“Iki pun maghrib pak? Kemana dulu toh ? Tanya bu Dirjo seraya menyuguhkan teh hangat di joglo. “Ngobrol sama pak Kus, tuker pikiran soal niat kepindahan kita bu..” sahut pak Dirjo. Pak Kus memberi banyak masukan, pandangan bagaimana nanti seandainya kita jadi pindah. Dari mulai pabrik, anak-anak, keluargamu, keluargaku, Cirebon, juga rumah peninggalan Ibu..” pak Dirjo menghela napas. Matanya kembali menerawang persoalan yang akan dihadapi berkaitan dengan keputasannya itu. Buru-buru ia menyergap fikirannya, “Aku tak mandi si’ bu..”
Cahaya bulan menerobos pohon durian, pantulannya bergoyang diatas kolam samping rumah pak Dirjo. Ia pejamkan matanya menyerap semua energi yang ada dari kampung halamannya. Diserapnya kenangan, erangan, tangisan dan debu-debu daun yang berjatuhan dihalaman dalam-dalam, ada ngilu yang beradu di ingatannya. Gemuruh di dadanya ia biarkan sejenak, biarkan bergejolak hingga ia menghembuskan napas dengan perlahan dan membuka mata. Pak Dirjo sebagai penduduk asli Dusun Murangan merasa berat untuk meninggalkannya,
Catatan sejarah yang separuh telah meresap di tanah ini, dihamparan ladang dan rimbun pohon bambu, begitu juga cintanya, pertemuan dengan bu Dirjo di lapangan desa Murangan akan selalu menghidupkan keinginan untuk kembali dan membaui tanah kelahirannya. “ini pae..” seru bu Dirjo dengan menyodorkan sehelai kertas, pak Dirjo meminta bu Dirjo membuat surat pengunduran dirinya dari pabrik sebagai bukti keridhoan bu Dirjo untuk merantau.
Pak Dirjo memandangi surat itu dengan seksama, kemudian bertanya pada bu Dirjo seraya mengelus perut bu Dirjo yang tengah mengandung. “mungkin sing nomer papat lahiri ning Cirebon bu..” suara pak Dirjo lirih. “Kebaikan akan membawa kita pada kesejahteraan dunia akhirat pa..percayalah..” balas bu Dirjo. “Sesuk surat tak lebokke, ben cepet entuk jawaban..” “mapag si jabang, ben pas lahir awak dewe wis duwe omah ning cirebon..” memang bagi pak Dirjo kebahagiaan keluarga lebih dari segalanya. Ia teringat almarhum bapaknya yang berpesan “sing jenenge wong lanang, tiyang kakung iku, wong sing iso nganggep wong wedok tiyang estri iku dadi bagian uripe, wong lanang butuh wong wedok lan sebalike. ” karena memang pak Dirjo sangat pendiam, mungkin hanya dengan cinta bagaimana memahami perilakunya.

Setelah mendapat surat keputusan dari pabrik, pak Dirjo dan keluarga pindah ke Cirebon dengan penuh suka cita, ia menghamparkan mimpinya lagi merajut hari-hari membangun rumah, hingga datang waktu kelahiran anaknya yang ke-empat. Kini pak Dirjo menjadi bagian penting dari pabrik baru dimana tempat ia bekerja di Cirebon.
Empat tahun kemudian pak Dirjo dikarunia satu anak lagi, kini di usia senja pak Dirjo hendak melengkapkan kebahagiaan untuk menunaikan ibadah haji, sebagai bonus dari perusahaan tempat ia tinggal karena prestasi kerjanya yang bagus.

Jogja, 2009

Jumat, 28 Agustus 2009

Puisi Hidayat Mohamad arif

Hidayat Mohamad Arif

Kota Tua dan Ritus Dupa
1
Udara terapung di atas pohonan tanggung
rindang kamboja seperti tugu-tugu merah yang diam
dari gugus galaksi, bulan gerhana
terang diserap remang
ada deru ombak menyusun lirik lagu:
lekuk terumbu, tarian nyiur, tambak udang
tercatat dalam riuhnya pesisir.
2
Buritan kapal seperti pengasingan
ribuan mangrove tumbuh
di tepi pesisir, sayap camar jadi kenangan
dan pasir-pasir bertambah sekal
sementara ladang garam kehilangan asin
alam bersitegang
maka, ikan-ikan memilih jadi imigran.
3
Jangkar karam berkarat
bantar sungai pekat
kapal-kapal coret-moret
sementara gudang seperti gua
tangan pekerja membongkar tembok-temboknya
untuk kenangan atau batu nisan
batu-batu yang dilelangkan di pelabuhan.
4
Dan kini hujan di menara
komposisi jarum jam seperti memperhelatkan
buritan kapal, jangkar karam
juga yang tinggal sejumlah nelayan terus sibuk
menyusup di gemuruh pesisir
dibayang-bayangi udara yang mengapung
di baris-baris suluk aku canggung
kota tua dan ritus dupa satu berita
berisi cerita terkadang sengketa.

Cirebon, 2005.

Malam dengan Sayap-sayap Angin
Malam dengan sayap-sayap angin yang runcing
di tenggara, hujan bergetar dalam jiwa kembara
ada titik masa lalu berlepasan di rambutmu
yang helai-helainya bisu
dan angsana pun berguguran seperti riuh kabut
pada lengkung punggungmu, menyimpan resah puisi
aku bangkit menuliskan kata-kata yang berdarah itu.
Di lenganku, antara bayang purnama dan akasia
seperti muara yang menyusun separuh wajahmu
wajah yang dipantulkan guguran embun
memetik jiwaku di bawah gerak angin
pada lengkung punggungmu, tersimpan resah puisi.
dan dua tanganku mendekap dinginnya waktu.
Malam dengan sayap-sayap angin yang runcing,
di tenggara, lepas dari purnama
dalam sepi, pada lengkung punggungmu
menempuh rahasia
bersama puisimu yang paling sunyi.

Cirebon, 2005

Sebuah Catatan
Purnama September, di teras rumah
setelah rintik hujan itu
akasia kuyup
sekawanan rumput berdiam
ada genangan di halaman
malam bercahaya pualam
hanya batu-batu yang tetap menghitam.
Di kolam yang bentuknya tapal kuda
antara tembikar dan sisa air bekas jilatan anjing
menjadi bayang-bayang
Mengapa waktu begitu lemah
tak ada serangkai catatan
dari perjalanan?
Di kolam yang bentuknya tapal kuda
sekepal batu jadi jejak rintihan anjing
menjadi segala kenangan
Malam runtuh ke pagi
saatnya pergi, saatnya
tak ada catatan yang bisa jadi puisi.

Cirebon, 2005

Jumat, 24 Juli 2009

Lutfiyah handayani

Lutfiyah Handayani

Dikamarmu

Ada tembok yang basah hampir berlumut dan mengerak
Dibarisan buku terselip kenangan yang menyisakan ngungun wajahmu
Pintu, jendela, lantai usang penuh debu bertutur puisi
Rupanya matahari pun enggan menerobos langit-langit kamar itu
Diruangan ini kata-kata berbincang denganmu dulu, kini terasa sunyi
Angin membawa perahu yang kau tambatkan entah di negeri mana
Dengan gerbong ketabahan kau lempar keindahan ke danau sepi
Aku hanya bisa menjaga resah menunggu memelihara kenangan
Sebelum datang pagi yang menggulung semua mimpi


Jogja 2009

Selasa, 21 Juli 2009

Lutfiyah Handayani

Lutfiyah Handayani

Setelah Kemarau
(Untuk:B)

Rimbun ilalang dirambutmu semoga terbakar angin senja
Hingga resah meluruh dan angin kumbang membawanya jauh darimu
Saat berganti musim dingin membasuh debu di pelipismu
Kereta waktu menghijaukan benih keriangan diladangmu
Akan kutanam padi di dadamu dengan balur cinta matahari
Dengan ketabahan kemarau menyusun bebatuan sungai menunggu hujan
Dalam labirin hampa peluh mengkilap meranggas di matamu
Pandanganku terluka membaca rajah yang tercatat tentangmu
Namun ketabahan padamu menjulang segala ragu


Jogja, 2009

Senin, 20 Juli 2009

Lutfiyah handayani

Lutfiyah Handayani

Lantai Bawah Bring harjo
(Catatan Untuk;B)

Seratus enampuluh kali kau yakinkan namaku berjejal di etalase
Cinta yang diukir dengan tinta waktu yang membeku dari sudut hatimu
Angin mengibas debunya sesekali-membasuh peluh sepanjang jalan
Gayut kasihmu terlontar dari tabuhan rebana pengamen renta

Jangan pergi terlalu jauh dariku karena tak mampu kutegaskan sendiri
Matahari membakar jemari lembut para pedagang jajanan khas malioboro
Tanganmu seakan mendekapku dengan ilusi penuh keraguan
Angin kemarau kembali mendesir menyisakan panas yang merangsang

Kau berjanji akan kembali dengan ketabahan yang memanjang
Menjagaku dari kobaran kemarau yang membakar keriangan
Di Bring Harjo sejuta mimpi terlahir dengan airmata yang dimulai saat gulita
Kusimpan doa, cinta, dengan ringkih pada lembaran sejarah Kota tua

Jogja. 2009

puisi bahasa Cerbon

Lutfiyah Handayani
Muludan


Sejerone masigit akeh kemit pada ngentit

Gulati sega, lenga, lan kupat kang tundunan

Kyai e pada rebutan nggulati tamu

Ngunjung arane pangeran nabi

Muludan dienteni dudu mung ditabue gong sekati


Jubelane tamu rebutan kebul ukup kang blegedeg irenge

Angen-angene pengen pada sakti lan sugih

Raie diraupi karo banyu sumur pitu

Sebadan kujur digrujuk luru barokah

Hei wong wasilah ku ana

Tapi dudu kanggo pinuju

Muludan dienteni dudu mung kanggo numpaki paksi

Muludan, luru berkah iman sejerone ati.


Cirebon, 2009



Ahmad Syubbanuddin Alwy
SUSUB LANDEP


Urip ning kene, kaya kari sedepa
segara wis dadi comberan banyumata
sawah dirubung wereng geseng, mrenganga
sedalan-dalan papan reklame gawe nelangsa
lenga lantung, bensin lan solar nyumpeli dada

Urip ning kene, kaya sejagat godhong kelor
awak mlarat-bantat, kari selembar celana kolor
mana-mene mentog, sikil mung bisa selonjor
srengenge gerumpung, ozone krowak umeb bocor
angin molak-malik, zaman wis sulaya lan kotor

Urip ning kene, kebebeng-peteng kaya ning jero bui
sing gedhong pemerentah, sira keranjingan dadi memedhi
bli rumangsa gawe sengsara, mledingi silit bari mungkur ati
rayat jejemplingan dianggep radio bodol, dijejeli kancing kemiti
usus-buntu kebek paku, weteng busung segunung kaya kebo mati

Ning kulon, wong-wong bli wirang dadi bunglon
ning wetan, wong-wong medheni kaya merkayangan
ning lor, wong-wong pada mringis gemuyu matae bolor
ning kidul, wong-wong krasak-krusuk ngeramped persis bedul
aja brisik, weru bli? Kabeh dadi susub landep: ngerampok negara!

Cherbon, 2005.
Ahmad Syubbanuddin Alwy
SUSUB LANDEP


Urip ning kene, kaya kari sedepa
segara wis dadi comberan banyumata
sawah dirubung wereng geseng, mrenganga
sedalan-dalan papan reklame gawe nelangsa
lenga lantung, bensin lan solar nyumpeli dada

Urip ning kene, kaya sejagat godhong kelor
awak mlarat-bantat, kari selembar celana kolor
mana-mene mentog, sikil mung bisa selonjor
srengenge gerumpung, ozone krowak umeb bocor
angin molak-malik, zaman wis sulaya lan kotor

Urip ning kene, kebebeng-peteng kaya ning jero bui
sing gedhong pemerentah, sira keranjingan dadi memedhi
bli rumangsa gawe sengsara, mledingi silit bari mungkur ati
rayat jejemplingan dianggep radio bodol, dijejeli kancing kemiti
usus-buntu kebek paku, weteng busung segunung kaya kebo mati

Ning kulon, wong-wong bli wirang dadi bunglon
ning wetan, wong-wong medheni kaya merkayangan
ning lor, wong-wong pada mringis gemuyu matae bolor
ning kidul, wong-wong krasak-krusuk ngeramped persis bedul
aja brisik, weru bli? Kabeh dadi susub landep: ngerampok negara!

Cherbon, 2005.

Ahmad Syubbanuddin Alwy
REPUBLIK BAGONG

Sawise telungpuluh taun urip kaya mati disembur banaspati
getih bari banyumata kang gerememeng umeb ning segara ati
ngatonaken dedhemit lawas: wong-wong duwur pencilakan
wot-wot kreteg rayat reyot digejog-gejog cemera, kaing-kaingan
jegoge mbobok srengenge lapis pitu, mecah terowongane mata
sewu raksasa kemaruk mbeseti sededeg-sepengadeg mahkota
dalan-dalan kobong, kabeh werna kelebet lembayung bolong-bolong
jagat kaya mabok, gedong pemerentahan magrong-magrong dibopong

Hei, aja klalen aja kelawasen ira kabeh dadi lelembut wong kapiran
sing sejero sumur leng semut geni, suwara rayat bakal njerit ngelawan

Urip wis beli puguh: sengkuni, petruk, cakil, dorna lan kumbakarna
pada dadi topeng kunyuk, kukuluruk nampeki pipi rayat kang ngresula
njejaluk bari nggegayang lading, sikile nyerimpung, tangane nggunting
ngeramped jerowan, njambak rambut, ndondomi cangkeme kang sumbing
naleni ati kang geseng-rumpeng diungkebi wangwa, bobad lan sakwasangka
cengkeromed lan lenggarangan, mbladak-mbaladak mbobol lawang negara
edan separan-paran waras sekejap metra, pengeling-eling kaya obor blarak
kabeh persis jaran lumping, muter-muter kaya kemidi, kaya nginum arak

Hei, aja kadiran aja cengengesan ira kabeh dadi sesambat atie rayat
sing bunbune bayi kang masi suci, bakal ngerangseg wong sejagat

Sawise urip telungpuluh taun kaya rungseb dicukuli suket alang-alang
sekujur awak growak ngowak-ngawik, bumi lindu, srengenge njomplang
awit segara kang bengkah dadi gili naga, sukma sewaya-waya kaya ara-ara
bocah-bocah enom tawuran duwur wuwungan, nyengget layar dermaga
wakil rayate pada sampyong, sempoyongan nyembur-nyembur ngelindur
beli kelingan purwadaksina, kekirig ndeleng awe-awe tangan batur sedulur
nggelosor ning sorog-sorog gedong pemerentahan, nggegulat kaya rerawat
maesi raine dhewek, dadi wewe-gombel lan merkayangan edan keparat

Ayo, aja wedi aja cilik ati ning lelembut kang kudu dikumbah sumur pitu
ayo, tirakat-tetapa nguleni pikiran, ngopeni batin lan aja klalen: nggosok untu!

Cherbon, 2001.

Lutfiyah handayani

Lutfiyah Handayani
Kenari


Di ujung jalan
Di pucuk pohon rambutan
Diantara ritus keseharian
Kau taruhkan masadepan




Jogja 2008

Cerpen

Hikayat Babi
Cerpen EDENG SYAMSUL MA’ARIF



DASAR babi! Bapak memang babi! Kalau bukan babi, mana mungkin menempeleng ibu sampai terjengkang. Ibu yang ringkih hampir sekarat. Bapak biasa membanting pintu sampai jebol, minggat berhari-hari.
Semua karena ibu tak suka bapak terlalu sering menyatroni betina tetangga kampung. Bukan ibu tak paham kebiasaan lacur ayah. Tapi ibu sudah tak tahan menanggung penyakit yang ditularkan bapak. Sudah tidak terhitung kencing nanah berbau got, kelamin borok dirubung lalat, berjingkat menahan nista, mata melotot muka pucat ketika kencing dan berak.
Sementara bapak asyik keloni betina menor simpanannya. Pulang larut mulut sengak bangkai. Segrok-segrok menumpahkan kopi kurang gula.
”Bersihkan pantatku, anak babi!” Mata merah kurang tidur kucek-kucek belek.
”Siapkan tasku! Ambil dasiku! Cepat sedikit, Celeng!”
Bersungut-sungut mulut monyong hidung persegi. Taring melengkung bulu kelabu kehitaman meriap-riap. Liur menetes slilit cacing tambang. Mengira diri lebih terhormat ketimbang monyet buntung.
“Obati kelamin ibumu! Besok aku akan memakainya lagi! Hari ini aku pergi ke luar kota!”
Persetan! Paling-paling mau kangkangi betina menor tawarkan pantat megal-megol.
Harusnya bapak dipenggal. Dibikin babi guling atau disate bumbu kecap, ditaburi bawang merah dan mentimun. Ditongseng pedas. Kepalanya dikeringkan dibuat celengan. Kelaminnya diwadahi koteka, digantung di kusen pintu. Kulitnya dibeset, disamak lalu dijual di pasar babi. Hik hik hik.
Suatu malam, bapak pernah mengajakku ke pesta kebun. Aku dikenalkan pada kawan-kawannya. Kepalaku ditoyor ke depan. Mereka tertawa cekakak-cekakak. Memeluk betina megap-megap. Menenggak arak, melempar botol nyaris menyerempet hidungku.
”Hahahaha! Kemari, anak babi! Cobalah minuman kebangsaan kami!” Bapak menyodorkan sebotol minuman berwarna kemerahan.
”Kau tahu? Betina-betina sipilis seperti ibumu, menyisakan pembalut-pembalut untuk diperas. Sedikit arak impor dan bubuk merica, cukuplah untuk menghangatkan badan!”
Mereka tergelak. Ada yang tersedak. Hoek-hoek memuntahkan bacin dan tahi kerbau. Ambruk. Menggelosor. Sementara yang lain mengencingi muka si mabuk. Gembira ria. Bahagia sentosa.
**
”SUAMIKU memang babi. Benar-benar babi.” Perih ibu ketika sakitnya semakin hebat tak tertahankan.
”Tidaklah kau meniru kelakuan bapakmu.” Mata ibu sayu. Napasnya cengik-cengik. Mendengus kisahkan nasib. Tak ada air mata. Dulu, ibu juga betina simpanan. Dilamar bapak di tengah kuburan, ketika bulan purnama. Tak ada pernikahan hanya pesta-pesta. Sepakat ucap tinggal seatap. Kumpul babi. Itu sudah cukup untuk beranak-pinak melahirkan anak-anak babi yang mati diinjak-injak bapak. Aku yang masih tersisa karena disembunyikan ibu di rumah tetangga. Mewarisi haram sepanjang hayat.
Di cermin ibu kuraba bapak. Persis! Aku mirip bapak! Anak babi. Babi keparat yang kangkangi ibu meski menstruasi. Terjang perut menguik-nguik, tuduh selingkuh berbuat bejat. Tak bercermin wajah masih tetap babi. Tapi dasar laknat. Ibu dihajar dibabat-babat. Berguling-guling muntah darah.
”Jangan ceramahi dia dengan mimpi-mimpi musykil, babi betina!” Ketika ibu mendongeng keluarga bahagia sejahtera.
”Mestinya kau ajari bagaimana caranya menggauli betina-betina sebayanya. Dia sudah hampir birahi! Biar dia tahu, bagaimana rasanya jadi babi dewasa!” Bapak sorongkan moncong semburkan cacing. Metingklak kencingi piring singkong di pangkuan ibu. Berkelebat cecerkan tahi.
Bungkam. Mata ibu menetes. Sejak lama bersabar diri. Menerima hinaan bertubi-tubi. Sampai waktu menyilet. Ibu tinggalkan rumah, setelah babak-belur dihajar bapak. Menyeret luka berlaksa-laksa. Tapi bapak suka. Bersorak berjingkrak-jingkrak. Lepas beban tanggal pikiran. Merasa diri bagai pangeran.
Bapak pesta berminggu-minggu, terkam betina ganjen bergincu. Sebarkan penguk dari ketiak busuk. Menggandeng bapak mengerling juling. Gedubrak! Gedubrak! Dung! Dung! Dung! Tralala tam-tam! Tralala tam-tam! Kreot kreot ranjang patah. Bilik jebol awut-awutan. Dobrak pintu menggoda-goda, pamerkan dada menggantung busung.
”Hidup itu kudu mukti, kudu dinikmati.” Melinting daun jagung udud kemenyan. Bersila rapat hadapi kopi kebul-kebul, jengkelit bersabda.
”Bangsa babi tak perlu iri, apalagi dengki. Agar tiada beban di hati. Tengoklah! Usiaku kian beranjak pergi. Tak sempat esok menikmati, hari ini pun jadi. Tak perlu risau karena aku berkicau. Tak perlu resah karena aku menebah. Syukuri takdirmu sebagai babi sejati.” Nyinyir bapak terbatuk-batuk.
Khinjir! Makhluk terkutuk sandangan paling kekal. Meski tobat jumpalitan memohon rahmat, takkan berubah jadi anjing atau kucing garong.
**
”INI ibumu yang baru!” Suatu malam terhuyung menggandeng pelacur bau kencur. ”Mulai hari ini sampai kiamat, dia berhak tinggal di rumah ini. Cium kakinya!”
Puih! Meski sama-sama babi, tak sudi aku mencium kaki babi pelacur. Kusikat ia. Kuhantam hingga kakinya sengkleh. Bapak membelanya. Aku berlari secepat setan. Menjangkau ibu yang tak tentu rimbanya. Kugorok bapak saatnya tiba.
Hingga datang kabar melenting. Ibu khusyuk mendekap kuburan nenek, tempat pertama berjumpa bapak. Mata cekung semakin murung. Komat-kamit mantra leluhur.
”Ibu masih menunggu bajingan itu?” Mual menonjok perutku.
”Durhaka! Bagaimanapun dia tetap bapakmu!” Ibu mendengus tak suka.
Aku bergidik. Ibu amnesia. Ibu lupa siksaan-siksaan itu, penyakit-penyakit itu, pelacur-pelacur itu.
”Tidak ada betina lagi selain pelacur itu, Ibu. Tak ada Ibu dalam ingatannya.”
”Engkau buta, Celeng. Cintanya takkan berpindah. Meski dia bersama betina lain, pelacur-pelacur itu takkan bisa menggantikan aku, istrinya yang dicintainya. Jika sampai waktu yang ditentukan, ia akan kembali padaku. Engkau tidak akan pernah paham.”
Ibu mulai gila. Keparat itu telah memabukkan makhluk di hadapanku. Bah! Sejak kapan babi mengenal adat? Babi kawin karena ingin bersetubuh, tak peduli cinta sejati. Titik!
**
”IBU menunggu di kuburan. Temui dia. Ajak dia pulang dan kawini sepuasnya!”
”Menjemput ibumu? Hahahahaha! Sampai mampus, takkan sejengkal aku menemuinya! Apalagi kawini tubuh peot penuh borok! Suruh ibumu menggali kuburnya sendiri! Katakan, aku menunggunya di dasar neraka! Grrrookk! Grrokk! Grrrookk!”
Bukkk! Tendangan menyilang sepenuh nafsu. Bapak terjengkang. Mendelik tak sempat mengelak. Rahang patah gigi rompal. Darah mengucur. Menggeram hendak menerjang. Tapi limbung. Ambruk.
**
”AKU gagal membujuk bapak.”
”Waktu yang salah. Bapakmu tak biasa dipermalukan di muka umum.”
”Tinggalkan bapak.”
”Tindakanmu semakin membuat sulit keadaan.”
”Cari pengganti bapak.”
Plakkk! Darah mengucur dari hidungku. Ibu membalikkan tubuh. Mendengus menahan amarah.
”Kau memang tidak tahu diri! Sampai kiamat, akan kutunggu suamiku di tempat ini sebagaimana ia melamarku di malam itu! Akan kunanti sampai ia puas meniduri pelacur-pelacur itu, sampai ia teringat pada betina yang telah memberinya seekor anak babi durhaka!”
Ibu tersedu. Tergugu. Ibu semakin gila. Aku ingin muntah. Kelebat bayang hitam di balik kamboja mengilatkan dendam. Aku melompat memburu laknat itu. Kakiku diserimpung ibu. Kepalaku membentur nisan batu. Bapak terbahak. Ibu tergelak. Aku melayang, meninggalkan suara-suara yang kian menjauh.***
Cirebon, 2009

essay

Tradisi Sedekah Bumi Cirebon

Oleh Mulyanto SWA *

Masyarakat pantai utara Cirebon, yang terkenal dengan udang dan petisnya, bermata pencaharian utama bertani dan melaut sejak zaman dulu sudah berkembang. Dalam usaha bertani dan melaut pada zaman sebelum Islam, mereka terikat keparcayaan agama nenek moyang. Pada masa itu masyarakat percaya kepada dewa penguasa bumi, dewa penguasa laut, dan sebagainya. Mereka menganggap para dewa itu sebagai sesembahan. Keyakinan atas adanya dewa tersebut ditunjukkan dengan penyiapan sesaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil-hasil usahanya.
Ketika Islam masuk, tradisi itu sangat mendapatkan perhatian. Kepercayaan akan dewa-dewa digantikan dengan iman kepada Tuhan. Menurut Islam, hanya Allah yang patut disembah. Sesembahan kepada dewa pada masa pra-Islam tidak dibuang sama sekali caranya, tetapi diubah substansinya. Dalam usaha-usaha mengalihkan keparcayaan itulah terbentuk upacara baru, sedekah bumi.
Upacara baru ini pertama kali dilaksanakan pada pemerintahan Kanjeng Susuhan Syekh Syarif Hidayatullah (1482–1568 M), tempatnya di Puser Bumi. Puser Bumi adalah sebutan untuk pusat kegiatan atau pusat pemerintahan Wali Sanga. Mengenai kedudukan Puser Bumi, ada penjelasan bahwa setelah Sunan Ampel wafat pada 1478 M, dipindahkan dari Ampel (Jawa Timur) ke Cirebon yang letaknya di Gunung Sembung—sekarang disebut Astana Gunung Jati.
De nika susuhan jati, hana ta sira maka purohitaning sakwehnya Dang Accaryagameslam rat jawa kulwam, mwang para wali ing jawa dwipa, muwah ta sira susuhan jati rajarsi. Susuhan jati adalah pimpinan para guru agama islam di Jawa Barat dan pimpinan para wali di Pulau Jawa, beliau adalah raja resi (PNK oleh P. Wangsakerta 1677 M sarga IV halaman 2).
Upacara adat sedekah bumi dilaksanakan pada cawu ke 4 (bulan oktober) setiap tahunnya. Tradisi ini dilaksanakan hampir di seluruh desa-desa di Cirebon, misalnya yang masih kuat melaksanakan tradisi ini adalah Desa Astana Gunung Jati yang termasuk kedalam kecamatan Gunung Jati sekarang. Sebagai pelaksananya adalah Ki Penghulu serta Ki Jeneng Astana Gunung Jati berikut para kraman. Pelaksana adat juga didukung oleh para pemuka masyarakat dan tokoh agama di desa-desa yang berkaitan dengan Keraton Cirebon, mereka disebut Prenata.
Pelaksanaannya dimulai dengan Buka Balong dalem yaitu mengambil ikan dari balong milik keraton di beberapa daerah (masih ada di desa Pegagan) oleh Ki Penghulu bersama Ki Jeneng atas restu Sinuhun. Selanjutnya Ki Penghulu bersama Ki Jeneng Ngaturi Pasamon (mengadakan pertemuan) para Prenata dan para pemuka adat lainnya, dalam Pasamon ditetapkan hari pelaksanaan sedekah bumi. Maka sejak ditetapkannya hari pelaksanaan itu, disebarkanlah secara getok tular kepada seluruh penduduk bahwa akan diadakan Sedekah Bumi, melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan “Gelondong Pengareng-areng”.
Gelondong Pengareng-areng adalah penyerahan secara sukarela, sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang telah diusahakannya. Biasanya berupa hasil bumi seperti Sura Kapendem (hasil tanaman yang terpendam di tanah seperti ubi kayu, kembili, kentang, dsb). Sura gumantung, yaitu hasil tanaman di atas tanah seperti buah-buahan, sayur mayur, dsb. Hasil ternak seperti Ayam, Itik, Kambing, Kerbau, Sapi, dsb. Juga bagi mereka yang yang berusaha sebagai nelayan, mengirimkan hasil tangkapannya dari laut sebagai rasa syukur dan berbakti kepada kanjeng sinuhun. Penyerahan-penyerahan itu terjadi bukan karena paksaan atau peraturan tertentu, tetapi karena kesadaran penduduk itu sendiri dan kemudian dijadikan hukum adat yang aturan-aturan tidak tertulis.

Kaitannya dengan upacara Sedekah Bumi
Pelaksanaan yang merupakan tradisi masyarakat Cirebon ini sebenarnya merupakan Larungan dan Nadran yang kemudian disebut sedekah Bumi sangatlah begitu sakral dan memiliki nilai-nilai spiritualitas yang tersembunyi disela-sela acara ritual pelaksanaan pesta rakyat, sekaligus pembuktian adanya ajaran islam yang mengilhami pelaksanaanya. Termasuk dalam pakaian yang digunakannya, kuwu (kepala desa) menggunakan Iket (blangkon), baju takwa lurik dasar kuning, kain panjang, sumping kembang melati, memegang Teken (Tongkat paling tinggi ± 60 cm). Ibu Kuwu berbaju kurung, kain panjang, sumping melati, gulung kiyong, selendang jawana.
Upacara adat Sedekah Bumi ditandai dengan Srakalan, pembacaan kidung, pencungkilan tanah, kemudian diadakan arak-arakan yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dengan segala bentuk pertunjukan yang berlangsung di Alun-alun Gunung Sembung, misalnya kesenian rentena, reog, genjring, terbang, brahi, berokan, barongan, angklung bungko, wayang, bahkan sekarang ini ado pertunjukan tarling modern organ tunggal. Dalam pertunjukan wayang kulit lakon yang dibawakan dalam acara sedekah Bumi ini adalah Bhumi Loka, kemudian pada dipagi harinya diadakan ruwatan.
Dalam lakon Bhumi Loka diceritakan tentang dendam Arjuna atas kematian ayahnya yaitu prabhu Nirwata Kwaca. Terjadilah peperangan dengan putra Pandawa yang dipimpin Gatotkaca. Prabu Kresna dan Semar mengetahui putra Gatotkaca mendapat kesulitan untuk dapat mengalahkan mereka, bahwa para putra manik Iman-imantaka tidak dapat mati selama menyentuh bumi. Maka semar menasehatkan agar dibuatkan Anjang-anjang di angkasa, dan menyimpan mereka yang telah mati agar tidak dapat menenyentuh bumi. Prabu Kresna memerintahkan Gatotkaca untuk membuat Anjang-anjang tersebut di angkasa dan menyerang mereka dengan ajian Bramusti. Mereka semua akhirnya terbunuh oleh Gatotkaca , diatas Anjang-anjang yang telah dipersiapkannya. Bhumi Loka mati terbunuh kemudian menjadi Gludug lor dan Gludug kidul. Lokawati terbunuh menjadi Udan Grantang. Loka Kusuma terbunuh menjadi Kilap, loka sengara mati terbunuh menjadi Gledeg dan Lokaditya mati terbunuh menjadi Gelura. Habislah para putra Manik Imantaka terbunuh oleh Gatotkaca dan kematian mereka menjadi penyebab datangnya musim penghujan.
Dari mitos cerita di ataslah maka Sedekah Bumi dijadikan oleh kepercayaan masyarakat untuk menyambut datangnya musim penghujan. Namun dasawarsa terakhir ini nampaknya makna dari Sedekah Bumi sudah bergeser dari makna awal. Selain menjadi upacara Ceremony rutinitas biasa sekarang Sedekah Bumi menjadi daya tarik pariwisata oleh pemerintah. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang setiap diadakaanya Sedekah Bumi, yang maksud dan tujuannya pun berbeda pula. Namun, paling tidak tradisi ini masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Menurut Plato tata masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang tidak mengalami perubahan terhadap pengaruh luar yang bisa merubahnya. Plato lebih mendambahkan konservasi dari pada perubahan.

Tradisi membentuk kehidupan yang ideal
Tradisi dan budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam membangun kehidupan yang ideal. Seperti halnya dengan ilmu dan agama. Ilmu dan Budaya juga berproses dari belahan otak manusia. Ilmu berkembang dari otak kiri yang berfungsi membangun kemampuan berpikir ilmiah, kritis, dan teknologi. Seperti halnya dengan tradisi, termasuk kedalam salah satu kebudayaan daerah yang harus kita lestarikan. Oleh karena, salah satu upaya yang bisa dikembangkan pemerintah dalam mengatasi persoalan ini adalah dengan menjadikan sejarah dan budaya sebagai muatan lokal dalam kurikulum, mulai dari tingkat SD, SMP, bahkan sampai ketingkat SMA. Harapannya adalah agar tidak membiarkan dinamika kebudayaan itu berlangsung tanpa arah, bisa jadi akan ditandai munculnya budaya-sandingan (Sub Culture) atau bahkan budaya tandingan (Counter-Culture) yang tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan, sebab dengan terbengakalainya pengembanagan kebudayaan bisa berakibat terjadinya kegersangan dalam proses pengalihannya dari satu generasi kegenarasi bangsa selanjutnya. Selain itu juga tujuan lain dari pelestarian ini paling tidak akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dan unggul tapi juga berjiwa humanis serta merasa memiliki bahwa Cirebon sebagai pusat peradaban sejarah dan budaya Islam ditanah jawa. Pengenalan terhadap beberapa situs dan benda cagar budaya dikalangan pemuda juga sangat memperihatinkan, padahal Cirebon sangat kaya sekali akan situs dan kebudayaannya seperti, situs keraton, situs makam Sunan Gunung Jati dan beberapa situs yang menjadi petunjuk akan perkembangan Islam di tatar Jawa.
Apalagi Cirebon sebagai kota budaya dan pariwisata diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tradisi dan budaya khas Cirebon baik yang melekat pada masyarakat Cirebon, untuk dikemas menjadi komoditi pariwisata dalam skala regional, nasional maupun internasional. Selain itu juga Cirebon sebagai kota industri, yang berlatar belakang sejarah budaya dan tradisi diharapkan akan berkembang menjadi industri kecil padat kaya (kerajinan, tradisional) yang berorientasi ekspor, sehingga berkembang industri pariwisata sebagai pendukung kota budaya dan pariwisata.
Pelestarian tradisi ini akan menjadikan kehidupan masyarakat yang masih menghormati tradisi leluhur dan tetap akan melestarikannya seperti kata ini Ketahuilah, bahwa yang terpenting bukan hanya "bagaimana belajar sejarah", melainkan "bagaimana belajar dari sejarah". Soekarno menegaskannya dengan istilah: "Jasmerah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Bahkan, seorang Cicero begitu menghargai sejarah dengan menyebutnya sebagai "Historia Vitae Magistra" (Sejarah adalah Guru Kehidupan), sedangkan Castro berteriak dengan lantang di pengadilan: "Historia Me Absolvera !!!" (Sejarah yang akan Membebaskanku!!!). Haruskah kita menyingkirkan sejarah?, bored with history?, hated social scientific history?....

Penulis adalah Pegiat Lingkar Studi Sastra (LSS) Cirebon

essay

Sastra Cirebon, Penciptaan dan Kritik
Lutfiyah handayani*)
Kasmaran ingkang pinuji
Tangiya sajrening nendra
Ngelilir bangun sukmae
Ana tangis mangumbara……(Salana)

Penggunaan Bahasa Cirebon dalam Sastra Cirebon
Sastra Cirebon adalah salah satu bagian penting dalam upaya pelestarian bahasa Cirebon, karena karya sastra merupakan seni bahasa, dimana dalam konstruksi karya sastra bahasa menjadi hal paling penting untuk mengemukakan ide, pengalaman dan kemampuan imajinasi secara estetik. Dalam perjalanannya kegiatan tulis menulis di Cirebon yang memiliki muatan sastra sudah ada sejak zaman hindu-budha dimana tercipta suluk, syair untuk melakukan pemujaan kepada dewa, sesuai dengan tinjuan sosiologis bahwa karya sastra diciptakan dengan tujuan tertentu. Metode dakwah yang dilakukan oleh para pemuka agama (baca:wali) menggunakan suluk karya sastra zaman sebelumnya yang dimasukan muatan Islami, pola penciptaan sastra lokal Cirebon pada zaman itu bertumpu pada kebutuhan dakwah Islam.
Selain suluk dan pupuh, sastra Cirebon lain yang menggunakan medium bahasa diantaranya guritan (puisi), bahasa berfungsi sebagai tanda yang digunakan pengarang untuk mentransformasikan kejadian-kejadian sosial masyarakat, sehingga bahasa yang terdapat dalam guritan menjadi tanda yang terpenting dalam kehidupan manusia. Bahasa Cirebon sendiri secara umum dikenal memiliki tiga tingkatan bahasa yaitu bagongan, bahasa yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat umum-digunakan sebagai medium komunikasi dengan orang sebaya, kemudian dikenal bebasan, tingkatan bahasa yang digunakan oleh kalangan pesantren, kiai, juga bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau dihormati; orang tua, guru, tingkatan berikutnya disebut dengan kromo inggil, bahasa yang digunakan dalam kalangan keraton, merupakan tingkatan yang paling tinggi dan halus dalam bahasa Cirebon. Ragam dialek dalam bahasa Cirebon, seputar perbedaan pada pelafalan, kosakata dan istilah, menjadi n khazanah tersendiri pada karya sastranya.
Karya sastra Cirebon menggunakan bahasa, kawi Cirebonan, sansekaerta. Bahasa yang menjadi medium dalam karya sastra mampu menghadirkan suasana kreatif yang tercipta melalui proses berfikir pengarang dan memberikan pencerahan pada individu yang melakukan kajian terhadap karya sastra. Intensitas penggunaan bahasa Cirebon dalam karya sastra berupa guritan, suluk, juga seputar babad Cirebon yang bermuatan historis dan fiksi, mengisahkan karakter tokoh dalam hal ini nabi, wali melalui penuturan dan cerita. Karena karya sastra Cirebon bersifat kisah, sebagian besar karya sastra Cirebon dikenal sebagai kitab kuno yang berperan sebagai teks adat kebiasaan masyarakat Cirebon, baik yang bersifat umum maupun privat, tentang nilai, norma dan estetika adat masyarakat Cirebon. Tradisi ritual yang menjadi bagian adat masyarakat Cirebon merupakan manifestasi kebudayaan manusia yang mengejawantahkan keyakinan dan pola hidup masyarakat waktu itu.
Kepercayaan terhadap keampuhan suluk, pupuh, guritan dan beberapa karya satra lain dalam mentransformasikan nilai ke dalam kehidupan sehari-hari menjadi kekuatan tersendiri pada masa itu, dimana karya sastra lahir dari kebutuhan untuk kekuasaan keraton, pemujaan terhadap dewa yang dipercayai, penyebaran agama Islam. Karya sastra Cirebon terdiri dari sastra lisan dan tulisan, keduanya menggunakan bahasa Cirebon. Sastra Cirebon kini harus berhadapan dengan globalisasi termasuk ruang kolektif penciptaan yang dulu tercipta dikalangan sastrawan dalam upaya pengejawantahan ide dan realitas ke dalam karya sastra. Bagaimana kita mampu bertahan dengan proses kreatif yang memiliki prinsip penciptaan yang sedemikan rumit, sementara globalisasi menawarkan kemudahan dan proses yang serba instan.
Sementara diungkapkan Dr. Kuntowijoyo, ‘Sastra sebagai bidang kajian sejarah intelektual masih belum banyak mendapat perhatian, baik dari para penulis sejarah maupun kritikus sastra Indonesia, padahal sastra Indonesia menawarkan begitu banyak kemungkinan. Sejarah intelektual dapat mempelajari perkembangan sastra dari internal-dialektik-nya, dengan membahas perkembangan, kontinuitas, dan perubahan konsep kunci dari tema, proposisi, dan posisi pikiran pengarangnya.



Melahirkan Kritik Sastra Lokal
Yang menjadikan sastra terus berkembang salah satunya ditandai dengan kritik sastra sebagai dinamisator sekaligus motivator dalam berkarya, pada tingkatan lokal, kritik sastra tidak mengalami banyak perkembangan, yang menjadi patokan pada kritik sastra lokal masih pada wilayah pakem penulisan sastra secara umum yang dirujuk dari standar kritik sastra saja, kajian kritis yang bersifat isi dan subtantif pada sastra lokal masih belum ada. Sementara karya sastra umum mengalami pemutahiran pada beberapa tingakatan karena memiliki kelembagaan yang melukakan dialog dengan karya sastra sehingga pembaharuan terus terjadi pada tingkatan tersebut.
Publik sastra lokal, tidak melakukan ”perlawanan” terhadap gagasan yang dikemukakan pada karya sastra lama, sehingga pembahuruan pada teks tidak terjadi, eksplorasi subtantif pada teks juga belum dilakukan dengan maksimal, ‘mengkeramatkan’ teks. Teks klasik harus menghadapi waktu yang terus mempertanyakan fungsi-fungsi sastra pada tingkatan tertentu, sosial misalnya, sehingga karya sastra yang bagus itu. Ketika teks memiliki universalitas dan mengemuka. Dengan semangat pembaharuan ‘perlawanan’ itu bisa kita wujudkan dalam pengertian sebagai pemutahiran teks.
Dari situlah akan memunculkan totalitas proses kreatif, sehingga tercipta standar mutu untuk bisa menyatakan sebuah karya sastra layak atau tidak. Perkembangan sastra lokal harus mendapat respon dari publik sastra sehingga tercipta ruang dialog untuk melakukan penyempurnaan. Menciptakan ruang dialog publik sastra ditingkatan lokal bisa dimulai melalui, komunitas-komunitas serius yang memiliki konsentrasi karya sebagai perwujudan intelektualitas. Pada era 70-an terjadi perdebatan seputar lokalitas dan nasionalisme, kehawatiran terhadap kekuatan sastra lokal dapat mengganggu nasionalisme kini tidak lagi ada, dewasa ini seiring dengan UU No. 24 Tahunn 2003 berkaitan dengan otonomi daerah, sastra harus membangun ruang publik “public sphare” untuk menjadi media potensi lokal yang memiliki basis intelektualitas.
Bahasa Cirebon yang digunakan dalam karya sastra terkesan ekslusif-dengan karena tidak banyak generasi muda yang menguasai kosakata asli Cirebon, hal itu terlihat dari banyaknya pengucapan yang salah saat membaca teks sastra Cirebon, sementara sastra akan dapat berkembang ketika diimbangi dengan kritik sastra- kritik sastra lokal khususnya Cirebon hampir belum terbentuk secara khusus, sejauh ini koreksi yang dilakukan pada karya sastra Cirebon hanya berkisar pada pakem lama seperti rima, bait dan aturan baku yang masih universal- dokumentasi kosakata Cirebon melalui kamus bahasa Cirebon tidak mewakili kebutuhan berbahasa lokal yang baik, karena komunitas penutur bahasa Cirebon asli sangat sedikit.
Membangun kultur tradisi dengan menuturkan bahasa Cirebon asli dalam sebuah komunitas, dapat kita jadikan sebagai langkah awal pengembangan sastra Cirebon, sehingga dialektika yang terjadi lebih banyak. Dan tidak menutup kemungkinan perkembangan bahasa Cirebon akan dapat meningkat dengan sendirinya, sesuai dengan jumlah penuturnya.

*) Penulis adalah Penggiat Lingkar Studi Sastra (LSS)

Mulyanto SWA

Guritan Mulyanto SWA
Laut Saksi Bisu


Sumliwir angin laut ning tepi pantai
Nylendep ning awak mami
Krasa atis ning jero ati
Mangmung ora ana kang mbaturi

Duh gusti ingkang welas asih
Sukma kula kaya dene banyu ombak
Kosong mlompong ora ana isi
Nyamber watu karang laut kejawanan

Banyumata kering netes nyiprati pasir putih
Gawe perih luka sejeroning ati
Ditinggal lunga dadi nelangsa ati
Ngaratapi kang wis beli dadi siji

Dermaga sing dadi kenangan madu kasih
Ngucap janji sehidup semati
Nanging mentari wis ora maringi
Manjing mlingsep tengah segara

Tetegana ati kula siji
Mbaturi ambane segara kang ora pasti
Nunggoni pelangi sesore langit
Njembarakan ati


indramayu,. 2009

abdurahman mohamad

Abdurrahman Mohamad
Nol Kilometer Tepat di Bayanganmu

Dulu, aku menyangka
kita terlahir dari rahim penuh ilalang
tumbuh dari desir angin pantai dan debu pasir
namun, kenangan telah menetapkan batas
yang membuatku mengemas segala rasa dan masa lalu

Bibirmu kini lebih jingga dari warna senja
senyummu lebih tajam dari belati
dan sebuah luka di dadamu yang terlihat seksi
kadang aku terlalu bergairah menyebutmu sebagai bidadari

Ini perjumpaan yang tak tebayangkan

Tepat nol kilometer dari bayangmu
pandanganku terluka, aku harus memaksa mata ini
untuk membaca rajah yang terterah di punggungmu
sebuah tanda sunyi dan lebih hitam dari dedak kopiku
kau tersenyum seakan mengerti, aku hanya seorang anak
yang terlupa garis nasabnya

Mungkin secercah cerita, mitos yang dilupakan
atau mantra pengasih yang ngilu untuk dibacakan
yang kau ingat dari semua pertemuan

Semua sejarahku telah terbungkus kafan yang legam, bagimu

Dan kini aku hanya ingin kau bernyanyi irama pantai utara
biar kurasakan pinggulmu bergoyang bersama kegelisahan
setelah ombak menghantam pasir-pasir yang kehilangan lembutnya

Indramayu-Cirebon 2008

kumpulan Puisi

Lutfiyah Handayani

Malam Di Lembang
(Kepada Widzar Al-Ghifary)

Pada setengah putaran matahari kita berjumpa, diantara rimbun pohon jalanan
Kau menjulurkan kenangan seribu kelokan menuju lembang
Bergelas-gelas kopi dan entah berapa puntung rokok kau terus bercerita
Tentang kisah penyair renta yang hidupnya di penjara, sesekali kau nyinyir
Dipundakmu bulan meranggas melukis lakon Baridin dan Ratmina
Kuterkenang padanya oleh kau pada kenangan sepuluh tahun silam
Mengais kasih diantara penghianatan-begitulah olehnya parasmu selalu kukenang




Lembang, 2009